Langsung ke konten utama

Permainan Baru

Barusan seperti ada beberapa orang yang mempermainkan namaku di belakang. Layaknya mereka paling benar karena mereka lebih merasa tua atau apa entahlah. Layaknya mereka paling benar karena bersekutu dan berulang-ulang mengucapkan kebohongan atau apa entahlah.

Kalo ada yang pernah denger Bit dari Stand-up-nya Pandji Pragiwaksono mengenai perbedaan orang bodoh dengan orang GOBBBLLLOOKK. Kalo bodoh itu bisa dimusnahkan dengan pendidikan, sedangkan orang GOBBBLLLOOOK itu udah MUSNAH aja. Orang GOBBBLLLOOOK itu orang yang udah tau yang didengar itu salah malah percaya terus disebar-sebarin. Itu lah orang GOBBBBLLOOKKKK.

Bagaimana kalau kita balik permainannya, bagaimana jika kalo setiap fitnah yang dilancarkan dan saya bisa buktikan kalau itu 100% salah dengan taruhan sejumlah uang. Dan saya sangat bahagia jika saya bisa kaya raya dengan kejujuran dan ketidakmunafikan saya akan suatu hal.

Pernah dengar satu kalimat "Orang Jujur maka Hancur". Kalimat tersebut sepertinya menyakiti Tuhan yang menciptakan manusia yang penuh dengan kesempurnaan yang dibawa dari-Nya, tapi malah kesempurnaan itu dibawa ke ambang kehancuran. Sedikit banyak mereka yang jujur jika dibikinkan lembaga yang mampu dan mau mengurusi kasus kebohongan-kebohongan manusia dan memberikan taruhan kepada yang mampu membuktikan kebenaran. Tentunya ini semua akan menjadikan negara kita menjadi negara jujur. Banyak rakyat yang tidak berpendidikan sekalipun siap mencari uang dengan mengasah otak mereka untuk membuktikan kebohongan-kebohongan dari yang sepele hingga krusial.

Tentunya suatu saat ini bukan hanya angan-angan yang dipikiran, tapi pasti akan terjadi dan dikenang jika saya adalah pencetus ide ini, hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini. Selamat siang semuanya dan selamat berlibur dengan sangat tenang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Terima kasih banyak atas karyanya

Hai , Nama saya Bernard Denata Suryawan . Masih dengan fisik dan jiwa yang sama , hanya sedikit tambah isi otak . Saya bahagia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang beraneka level . Level hidup yang paling bawah bukan berarti rendah , tetapi sedikit cobaan . Dan kali ini level hidup saya sedang diuji seperti halnya kenaikan pangkat atau jabatan . Di dunia ini sudah banyak lahir orang bijak yang memiliki jam terbang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup manusia lainnya . Meskipun secara fisik sudah di dalam tanah dan dicerna bakteri pengurai . Tetapi karya kebaikan mereka yang menyelamatkan kualitas hidup manusia , yang menjadikan mereka seperti hidup selamanya . Orang bijak banyak berkata bahwa kita tidak akan pernah merasakan hidup jika tidak sakit atau terkena musibah . Disini bukan berarti saya merindukan dan menginginkan masalah yang mendatangi saya . Justru harusnya saya harus lebih bersyukur sama Tuhan . Karena Dialah yang mengingatkan bahwa saya masih hidup dan hidu...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...