Langsung ke konten utama

Berhenti Berekspektasi

Susah rasanya jadi orang yang selalu beranggapan jika semuanya berjalan mulus. Mulus sekali berjalan lurus ke depan seakan kita tidak tahu arah lainnya. Seakan kita yakin bahwa jalan lurus memang benar untuk ditempuh. Jika memang berjalan lurus dan mulus itu menarik, tentu saja taman ria seperti dufan yang punya wahana andalan Roller Coaster tidak bakalan laris dikunjungi pelancong.

Setiap fase hidup selalu ada tantangan dan halangan yang harus dilalui. Entah kenapa saya adalah orang yang selalu percaya dibalik hujan badai akan timbul pelangi super indah yang muncul. Bahkan pelangi tidak bakalan muncul jika tidak ada hujan sebelumnya, apalagi jika tidak ada matahari. Dari analogi berikut dapat disimpulkan bahwa kita perlu memperkuat cahaya matahari yang kita masing-masing telah miliki.

Ada kalanya saya merasa harus berhenti berekspektasi mengenai adanya hal yang baik dilakukan orang yang kita kenal. Tujuannya biar kita sewaktu-waktu terhindar dari yang namanya rasa kecewa. Kita sering menganggap sahabat kita atau kekasih kita makhluk sempurna yang harus serba tanpa kekurangan.

Faktanya mereka manusia biasa yang penuh cacat dimana-mana. Tapi tetep sebagai manusia kita harus punya komitmen pada diri sendiri. Jika misal nih ya ada temen hobinya omongin kita yang bukan-bukan, ya kita mesti punya reflek gak perlu lah punya temen kayak gitu. Jika yang namanya reflek itu kita sudah punya, niscaya kita akan mengalami Zero Sum Disappointment.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Terima kasih banyak atas karyanya

Hai , Nama saya Bernard Denata Suryawan . Masih dengan fisik dan jiwa yang sama , hanya sedikit tambah isi otak . Saya bahagia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang beraneka level . Level hidup yang paling bawah bukan berarti rendah , tetapi sedikit cobaan . Dan kali ini level hidup saya sedang diuji seperti halnya kenaikan pangkat atau jabatan . Di dunia ini sudah banyak lahir orang bijak yang memiliki jam terbang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup manusia lainnya . Meskipun secara fisik sudah di dalam tanah dan dicerna bakteri pengurai . Tetapi karya kebaikan mereka yang menyelamatkan kualitas hidup manusia , yang menjadikan mereka seperti hidup selamanya . Orang bijak banyak berkata bahwa kita tidak akan pernah merasakan hidup jika tidak sakit atau terkena musibah . Disini bukan berarti saya merindukan dan menginginkan masalah yang mendatangi saya . Justru harusnya saya harus lebih bersyukur sama Tuhan . Karena Dialah yang mengingatkan bahwa saya masih hidup dan hidu...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...