Langsung ke konten utama

62 Kilo

Sudah lama rasanya enggak nulis di sini. Sekitar sebulan yang lalu, mulailah tahap baru dalam hidupku sebagai manusia yang berpenghasilan. Di Kota Jakarta ini tentu saja semua terasa berbeda, tidak sama seperti waktu di Surabaya. Segala sesuatunya biasa dibantu oleh teman-teman dan orang rumah.

Seiring berjalannya waktu dengan rutinitas yang sama, tentu saja menimbulkan suatu hal yang dinamakan kebosanan. Bosan rasanya setiap pagi harus bangun pagi dan pulang di jam yang sama. Harus dipaksa membuka mata di kelas ketika mengantuk. Barulah saya berinisiatif untuk mencari motivasi lain disini.

Perempuan unik yang mungkin sangat susah ditemui di pasaran. Tidak ada rencana sedikit pun untuk mendekatinya atau malah jarang sekali rasanya mengobrol dengannya. Apakah ini yang dinamakan kehendak Tuhan atau God Will ? sekali lagi cuma Tuhan pula yang tau.

Dia ini punya kebiasaan terhadap saya yang rasanya selalu bikin pingin ketawa. Karena kebiasaan tersebut saya memberikan julukan dia Si Tukang Pukul. Dari julukan tersebut pastinya sudah jelas apakah yang digariskan. Seringkali tangan atau anggota badan yang lain ini memar lucu dibuatnya cuma karena dibercandain.

Pasti kalian yang baca mulai berpikir saya ini cowok transeksual yang sedang butuh sosok pejantan lain yang mampu melindungi dan mengayomi. Tentunya saya tegaskan, "ITU SALAH BESAR !!!". Saya masih normal dan saya sangat suka pada makhluk hawa ini. Bukan postur ataupun kekuatannya yang sangat besar dalam memukuli saya. Tapi hatinya yang sangat lembut dan sepertinya selalu perlu untuk dijaga dari makhluk brengsek di kelas.

Sedikit saran buat yang baca khususnya kaum lelaki, jangan pernah berpikir kalo kamu tidak laku atau tidak ada yang berminat denganmu. Buktinya Tuhan di Surga punya stok banyak buat jatuhin bidadari cantiknya dari surga agar para lelaki kita mampu mewujudkan stabilitas kehidupan di dunia ini. Tanpa bidadari jatuh itu, saya yakin bahwa kiamat harusnya sudah terjadi jauh sebelum jaman nabi-nabi itu datang pula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...

Selamat Datang di dalam otak Beruang .

Saatnya memperkenalkan diri . Namaku Bernard Denata Suryawan . sebuah nama yang sangat amat patut kusyukuri . Karena pemberian orang tua . Sebenernya ada nama babtisnya . "Alfonsus" sebuah nama yang diharapkan memberikan dampak baik . Dulunya pemilik nama alfonsus ini sebelum diresmikan menjadi salah seorang suci . Dia adalah sebuah agamawan dan sarjana muda . . Mungkin waktu itu orang tuaku smpet berpikir siang malem gag tidur . Gara-gara cariin nama yang bagus . Supaya bayi kecil yang tanpa dosa dulunya ini . masih menjadi tanpa dosa seumur hidup. Tapi yang Ada malah menjadi manusia yang penuh Dosa . Bisa dibilang banyaknya dosaku . lebih banyak daripada jumlah penduduk sedunia . . Dan bayangkan . Semakin lama aku hidup tentu saja . bakalan makin banyak dosa yang bakal dibuat oleh "beruang" ini . Ehh iya hampir lupa . Beruang itu sebenernya bukan asal nama panggilan . Beruang ternyata arti nama dari BERNARD . WTF MENN ... Takkirain itu nama keren . eh ternyata art...