Langsung ke konten utama

Kecoa Sekarat

Hari pertama setelah hari kemarin. Semua berjalan sangat lambat, mata saya tetap menanti sesuatu di layar. Berharap semuanya akan baik-baik saja dan tidak menyakitkan. Menyakitkan di segala sisi, memang begitu kalo ketergantungan terhadap sesuatu. Ketergantungan mengakibatkan kita seakan-akan tidak bisa hidup tanpa hal tersebut.

Menjadi lemah itu wajar, wajar sekali bahkan jika mencoba menghentikan ketergantungan. Bukan hal yang mudah hidup tanpa seseorang yang disayangi. Semua seakan berjalan menuju sesuatu yang tidak tahu arah tujuan akhir. Asal berjalan dengan mata menatap hanya ke depan. Tidak menoleh kanan dan kiri, seakan tidak mengerti bahwa dunia sedang berjalan sangat cepat.

Hari ini menyaksikan binatang yang paling ditakuti dia sekarat itu adalah sesuatu hal yang absurd. Saya merasa absurd karena saya merasa senasib seperti kecoa tersebut. Dia tidak akan sungkan dan malu mengusir bahkan membunuh kecoa tersebut.

Kecoa itu sepertinya habis terinjak seseorang atau bagaimana sehingga tubuhnya hancur hingga lengket di lantai. Tetapi dia masih berusaha hidup dan berusaha lari meskipun tidak bergerak satu senti pun. Nasib saya lebih beruntung dari kecoa tersebut. Saya masih bisa bernafas panjang dan lebar.

Terbanglah kecoa, bukan pada tubuhmu yang lagi hancur tapi jiwamu yang tidak berdosa ke surga. Sepertinya masih ada harapan untuk berbuat sesuatu. Sesuatu sebelum segalanya benar-benar mencapai tahap abadi. Ketika seseorang berbicara keabadian, mungkin saja itu baik atau bahkan mengerikan. Keabadian kali ini hanya Tuhan yang tahu. Terbang Terbang Terbang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Terima kasih banyak atas karyanya

Hai , Nama saya Bernard Denata Suryawan . Masih dengan fisik dan jiwa yang sama , hanya sedikit tambah isi otak . Saya bahagia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang beraneka level . Level hidup yang paling bawah bukan berarti rendah , tetapi sedikit cobaan . Dan kali ini level hidup saya sedang diuji seperti halnya kenaikan pangkat atau jabatan . Di dunia ini sudah banyak lahir orang bijak yang memiliki jam terbang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup manusia lainnya . Meskipun secara fisik sudah di dalam tanah dan dicerna bakteri pengurai . Tetapi karya kebaikan mereka yang menyelamatkan kualitas hidup manusia , yang menjadikan mereka seperti hidup selamanya . Orang bijak banyak berkata bahwa kita tidak akan pernah merasakan hidup jika tidak sakit atau terkena musibah . Disini bukan berarti saya merindukan dan menginginkan masalah yang mendatangi saya . Justru harusnya saya harus lebih bersyukur sama Tuhan . Karena Dialah yang mengingatkan bahwa saya masih hidup dan hidu...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...