Langsung ke konten utama

Beragama Bukan Menjauhi Sesama

Terus terang fenomena orang Indonesia akhir-akhir ini yang sering ditemui waktu kuliah. Banyaknya orang muslim yang menjelek-jelekkan kaum kafir. Idealisme yang cuma sebatas status facebook menurut saya. Masih sering pake laptop buatan orang kafir dan segala macam yang bersinggungan keras dengan hal itu.

Saya beragama Katolik, bukan berarti saya punya kebencian mendalam pada agama Islam. Keluarga saya termasuk keluarga plural atau majemuk di mana banyak agama yang dianut oleh pribadi yang berbeda di dalam keluarga saya. Dari awal saya kecil tidak diajari kebencian mengenai hal bodoh yang bersinggungan dengan agama lain.

Jaman sudah semakin maju dengan segala jenis teknologi yang ditemukan, entah kenapa masih ada pikiran kolot yang otaknya dipenuhi pasir gurun dan kotoran unta. Fenomena yang paling baru ketika Jokowi resmi jadi capres PDIP, kemudian ada tulisan kalo mereka didukung kaum kafir. Tidak perlu khawatir kalo hal tersebut mengganggu kita, selama kita punya pola pikir yang lebih waras.

Saya entah kenapa tidak suka juga sama orang yang merasa eksklusif pada agamanya. Contohnya di agama saya sendiri aja. Mohon maaf, sering timbul perasaan jijik sama orang di Gereja yang aktif karena pingin eksis di mata orang. Di OMK atau Organisasi Muda Katolik sering banget berkumpul orang gosipin kejelekan orang yang beragama lain, terus apa tujuan dari adanya landasan agama dari organisasi ini. Coba survey di OMK sekitar kamu, pasti temannya terbatas OMK itu aja enggak jauh kemana-mana kalo pola pikirnya masih tolol.

Ada kejadian waktu natalan di wilayah saya berasa acara keluarga seseorang bukan global. Berasa ada acara ulang tahunan suatu keluarga yang ngeksis di depan nunjukkin keluarganya sendiri. Entah imanku yang dangkal atau dia yang agak sedeng. Di agama saya pun kalo orang terlalu ngotot belajar ilmu agama sana-sini, ujung-ujungnya kalo mau survey tingkah lakunya pasti ngerendahin umat agama lain bahkan umat agamanya sendiri. Merasa dirinya paling suci karena belajar ilmu agama.

Bahkan pemimpin agama Katolik, Paus Fransiskus aja bilang kalo dirinya bukan percaya Tuhannya orang Katolik tetapi Tuhan segala umat. Ada kalanya semua hidup harus imbang, perbanyak lah apa yang sekiranya jadi passion atau fokus karirmu. Agama cukup diimani dalam hati kemudian diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, jika tingkah lakumu sama orang lain baik maka kamu bisa dibilang beragama dengan baik pula.

Komentar

  1. Setuju banget sama kalimat terakhirmu, karena agama bukan sekedar label :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Terima kasih banyak atas karyanya

Hai , Nama saya Bernard Denata Suryawan . Masih dengan fisik dan jiwa yang sama , hanya sedikit tambah isi otak . Saya bahagia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang beraneka level . Level hidup yang paling bawah bukan berarti rendah , tetapi sedikit cobaan . Dan kali ini level hidup saya sedang diuji seperti halnya kenaikan pangkat atau jabatan . Di dunia ini sudah banyak lahir orang bijak yang memiliki jam terbang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup manusia lainnya . Meskipun secara fisik sudah di dalam tanah dan dicerna bakteri pengurai . Tetapi karya kebaikan mereka yang menyelamatkan kualitas hidup manusia , yang menjadikan mereka seperti hidup selamanya . Orang bijak banyak berkata bahwa kita tidak akan pernah merasakan hidup jika tidak sakit atau terkena musibah . Disini bukan berarti saya merindukan dan menginginkan masalah yang mendatangi saya . Justru harusnya saya harus lebih bersyukur sama Tuhan . Karena Dialah yang mengingatkan bahwa saya masih hidup dan hidu...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...