Langsung ke konten utama

Visiting Bali (Final)

Selesai sudah perjalanan kerja praktek saya di Bali . Banyak sekali hal baik yang didapatkan selama saya singgah di pulau ini . Rata-rata banyak sekali orang di Bali memiliki sikap yang ramah , apa adanya , dan tidak suka mengurusi hal yang bersifat pribadi dari orang lain . Mereka sangat welcome kepada stranger seperti saya . Dan oleh karena itulah saya mengerti , mengapa banyak wisatawan asing yang tidak henti berdatangan kesana .

Sebagian Keluarga MI BI Denpasar
Sangat beruntung sekali saya dapat kerja praktek di sana . Setiap sudut jalan yang saya temui selalu mengarahkan kepada lokasi wisata . Pulau yang penuh dengan ketenangan disana . Suasana kerja yang serius tapi diiringi dengan kekeluargaan yang sangat hangat . Jalanan sangat lenggang hanya di pusat wisata lah yang sedikit ada kemacetan . Semua hal itu tidak mengurangi kesan indah dan tenang dari Bali .



Kami dengan Bapak Gede Aryana

Selama di Bali saya banyak merepotkan keluarga teman saya . Tanpa mereka saya pasti jadi gelandangan yang gak ngerti mesti tidur dimana . Kerja praktek dengan partner yang handal dan tenang merupakan suatu anugerah utama dalam kerja praktek saya . Dengan menghasilkan produk yang sederhana tetapi memiliki fungsi yang sesuai . Tentu saja di akhir kami tidak luput dari perbaikan di sana-sini . Mereka memberi nilai yang sesuai dengan hasil kami.

Foolish Me

Sebulan lebih tiga hari saya di Bali . Tepat tanggal 31 Juli 2012 masa kerja praktek saya berakhir . Masih ingin rasanya saya bersantai dan berlenggang di pulau para dewa ini . Mengingat saya sudah banyak merepotkan orang dan tidak mungkin saya mengganggu ketenangan mereka . Sudah saatnya saya kembali ke Surabaya . Dengan Wings Air saya kembali ke kota kelahiran , ketika Sang Agustus masih berumur beberapa jam . Sepucuk cinderamata sudah dipersiapkan pada banyak perasaan yang terusik rindu dengan terpisah oleh selat dengan mereka .


Goodbye Aunties

Sekali lagi saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada teman saya I Gede Gemet Hari Nandaram , partner KP saya . Serta seluruh anggota keluarga di BI Denpasar . Tanpa kalian saya bukan apa-apa disana . Jangan lupakan saya , Saya pasti kembali ke Bali .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Terima kasih banyak atas karyanya

Hai , Nama saya Bernard Denata Suryawan . Masih dengan fisik dan jiwa yang sama , hanya sedikit tambah isi otak . Saya bahagia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang beraneka level . Level hidup yang paling bawah bukan berarti rendah , tetapi sedikit cobaan . Dan kali ini level hidup saya sedang diuji seperti halnya kenaikan pangkat atau jabatan . Di dunia ini sudah banyak lahir orang bijak yang memiliki jam terbang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup manusia lainnya . Meskipun secara fisik sudah di dalam tanah dan dicerna bakteri pengurai . Tetapi karya kebaikan mereka yang menyelamatkan kualitas hidup manusia , yang menjadikan mereka seperti hidup selamanya . Orang bijak banyak berkata bahwa kita tidak akan pernah merasakan hidup jika tidak sakit atau terkena musibah . Disini bukan berarti saya merindukan dan menginginkan masalah yang mendatangi saya . Justru harusnya saya harus lebih bersyukur sama Tuhan . Karena Dialah yang mengingatkan bahwa saya masih hidup dan hidu...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...