Langsung ke konten utama

Sebuah Hari, Sebuah Komitmen, Sebuah Tujuan

Bukan tanpa alasan untuk menghilang sejenak. Dunia ini semakin besar untuk dipikirkan satu orang. Dunia ini ada bukan untuk satu orang. Jadi mengapa tidak kita membagi isi pikiran kita mengenai dunia ini. Dunia dalam pikiran kita yang mungkin berbeda dalam setiap persepsi individu.

Dunia ini terlalu sakit untuk dipikirkan akan mengikuti pola pikir munafik kita. Terlalu berat untuk berputar sebagai mestinya jika kita semakin memberikan perlawanan. Dunia ini untuk semua orang berdampingan dan sejahtera dalam segala isinya.

Mereka sering berkata agama mereka terlalu benar untuk membiarkan manusia hidup dalam kebahagiaan persepsi agama mereka. Mereka sering menganggap minoritas layaknya hanya sebuah kutu anjing yang harus segera dibasmi.

Layaknya kita harus hidup berdampingan saling melengkapi. Layaknya sepasang kekasih menjalin komitmen menuju kebahagiaan duniawi. Hari dimana kita bisa duduk berdampingan menikmati hangatnya kopi di pagi hari.

Saya bisa dianggap bukan yang bertanggung jawab dalam setiap kecelakaan di jalan. Seringkali saya memilihi untuk menyingkir. Sebuah kejadian berarti jutaan makna bagi sel otak setiap manusia. Trauma bisa jadi ada. Hanya bisa berkata turut berduka ataupun semoga cepat diberi kesembuhan.

Semua ini berat jika dipikir sendiri. Semua ini terlalu naif jika disalahkan pada satu genggaman otak manusia. Lahir tidak dari rahim super yang melahirkan manusia super. Kita semua sama dan tidak berguna di mata Tuhan. Mengapa masih sombong ? layaknya paling dibutuhkan di jagad raya ini ?

Ada sebuah hari yang terlahir dari komitmen lebih dari seorang manusia. Pastikan itu jadi tujuan lalu kemudian putuskan untuk berangkat mulai sekarang. Genggam tanganku erat wahai masa depan cerah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Terima kasih banyak atas karyanya

Hai , Nama saya Bernard Denata Suryawan . Masih dengan fisik dan jiwa yang sama , hanya sedikit tambah isi otak . Saya bahagia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang beraneka level . Level hidup yang paling bawah bukan berarti rendah , tetapi sedikit cobaan . Dan kali ini level hidup saya sedang diuji seperti halnya kenaikan pangkat atau jabatan . Di dunia ini sudah banyak lahir orang bijak yang memiliki jam terbang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup manusia lainnya . Meskipun secara fisik sudah di dalam tanah dan dicerna bakteri pengurai . Tetapi karya kebaikan mereka yang menyelamatkan kualitas hidup manusia , yang menjadikan mereka seperti hidup selamanya . Orang bijak banyak berkata bahwa kita tidak akan pernah merasakan hidup jika tidak sakit atau terkena musibah . Disini bukan berarti saya merindukan dan menginginkan masalah yang mendatangi saya . Justru harusnya saya harus lebih bersyukur sama Tuhan . Karena Dialah yang mengingatkan bahwa saya masih hidup dan hidu...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...