Langsung ke konten utama

Beribu Maaf dari Berjuta Kebencian

Begini toh rasanya berbuat salah, dimana berdampak yang sangat besar. Saya memang telah salah jalan dalam memperlakukan kehidupan pribadi saya. Dan itu memang kesalahan yang berasal dari otak saya sendiri. Pertanyaan besar yang hadir sekarang ini, "Kenapa banyak orang yang sangat mau tahu?".

Haters gonna hate, demikianlah kata yang populer belakangan ini dalam kehidupan saya. Ciri khas dari seekor pembenci adalah sangat mau tahu dan sangat ingin mencerca apapun yang dilakukan oleh yang dibencinya. Kalo sudah gitu , ya mau diapain lagi ?.

Dibenci karena kehidupan pribadi? Ya udah sih. Entah kenapa akhir-akhir ini kok pembenci itu berkembang biak? Terus terang saya orang yang sangat membenci hal ini. Gosip sana-sini, Pelakunya enggak selalu cewek, Cowok banyak juga yang seneng banget nggosip pada masa sekarang ini.

Saya bukan orang yang sempurna. Melainkan banyak ketidaksempurnaan yang ada ini, yang tidak henti-hentinya membuat saya untuk kembali mendekat pada lindungan Tuhan. Memang Tuhan paling mahir di bidang menarik umat-Nya kembali. Actually di segala sisi kehidupan memang Tuhan yang terbaik.

Butuh berhari-hari buat ngelupain kebaikan yang sudah terlanjur diberikan baik dari diri sendiri ke orang lain, ataupun sebaliknya. Mungkin kata-kata yang lebih singkat, susah sekali untuk ikhlas. Kenapa lagi-lagi wanita yang menjadi sumber permasalahan dalam hidup saya. Bener kata Cu Pat Kay, "Cinta memang deritanya tiada akhir".

Tuhan baik sama saya diberikan cobaan macam ini. Setelah banyak proses yang terjadi, sekarang ini saya jauh lebih dekat dengan Mami [panggilan untuk ibu saya], Mbah Putri, dan Mbah Kakung.

Mami saya memang sering berkata pada saya kalo saya ini kalo udah punya pacar jadi lupa rumah. Jadi sering nggak pulang, jadi sering nggak di rumah, apalagi buat bersih-bersih rumah. Anak macam apa aku ini? Cucu macam apa aku ini?.

Berakhirnya hubungan kali ini, bener-bener kayak pukulan telak. Sangat melelahkan menangis, merenung,  marah, dan banyak hal negatif yang dilakukan hanya untuk melupakan dan melewati semua ini.

Man of the Match buat masalah ini adalah mamiku tercinta. Seluruh jurus sayang dikeluarkan buat menenangkan hati dan pikiran yang lagi gak ngerti mesti gimana. Pelukan sayang seorang ibu lah yang bener-bener jadi shock therapy.

Beliau sangat amat sedih jika saya satu-satunya anak, bukannya berhasil malah menjadi beban keluarga. Dan kata-kata itu pun keluar. "Mami ini nak, berani ngambil keputusan besar waktu kamu masih kecil, Mami lho bisa nak".

Sudah daripada ngalor ngidul, mendingan disudahin saja. Keep fighting aja lah, yang jelas mereka perlu aku banggakan. Orang yang merugikan ya di remove, delete, buang sampah, ludahi, lempar ke kali, dan hal-hal lainnya yang bisa menghancurkan. Tapi daripada lebay bin alay, ya dibiarin aja berkembang biak dan terus hidup.

Ini Maafku Untuk Sejuta Kebencianmu , Wahai Sampah Hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergeser Seperti Semula Lutut Saya

Semua terjadi begitu cepat, tanpa terasa muncul kehancuran masa depan di pikiran. Dislokasi lutut bukan hal sepele buatku. Pertandingan basket tempo hari seakan menjadi hari terakhir berolah raga. Keadaan sehat walafiat pun sekejap sirna dari bayangan cacat dan trauma seumur hidup. Harapan hidup nikmat berasa hilang dalam secepat kilat. Si Maria main ke rumah waktu tadi siang. Tanpa sengaja pacar saya ini duduk di lutut saya. Sekejap saya berteriak kesakitan karena lutut saya bergeser dari tempat sewajarnya. Saya berusaha berteriak minta tolong pada siapapun, namun hingga dua jam segala jerih payah seakan sirna. Klinik di perumahan pun tidak berani berbuat apa-apa. Waktu itu posisi saya sedang berada di lantai 2. Pikiran saya hanya ada kata "Rumah Sakit". Bergerak sesenti pun benar-benar menambah rasa sakit pada lutut saya. Sopir Taksi pun menyerah untuk mengevakuasi saya ke Rumah Sakit. Saya memutuskan untuk meminta jasa ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan pun sedang...

Surat Untuk Sang Wahai

 Kenapa surat ini bertuliskan untuk sang wahai ? Bukan kah wahai itu hanyalah sebuah kata sambung di depan yang berarti penekanan untuk subjek itu sendiri. Dan kenapa Sang Wahai ? bukannya Wahai itu di depan ? bukannya di belakang ?. Semua pertanyaan ini akan terjawab ketika aku bertemu sebuah sosok yang bisa menjadi penekanan untuk semua hal yang diusahakan. Jadi maksudnya siapa ? Maksud dari Sang Wahai adalah Calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Kenapa saya mencantumkan kata ibu setelah istri ? Bukan kah wajib hukumnya bahwasanya peran ibu lebih penting dibandingkan peran istri ? Saya pun setuju posisi ibu jadi sebuah jabatan tertinggi yang diberikan kepada manusia dan hanya diberikan kepada wanita saja. Lalu kenapa calon istri yang disebut pertama ? dan kenapa seakan-akan menjadi sebuah prioritas untuk diperbincangkan ? Jawabannya adalah tidak semua istri akan mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Disini saya tidak sedang berbicara "Bagaimana cara menjadi sosok ibu y...

Selamat Datang di dalam otak Beruang .

Saatnya memperkenalkan diri . Namaku Bernard Denata Suryawan . sebuah nama yang sangat amat patut kusyukuri . Karena pemberian orang tua . Sebenernya ada nama babtisnya . "Alfonsus" sebuah nama yang diharapkan memberikan dampak baik . Dulunya pemilik nama alfonsus ini sebelum diresmikan menjadi salah seorang suci . Dia adalah sebuah agamawan dan sarjana muda . . Mungkin waktu itu orang tuaku smpet berpikir siang malem gag tidur . Gara-gara cariin nama yang bagus . Supaya bayi kecil yang tanpa dosa dulunya ini . masih menjadi tanpa dosa seumur hidup. Tapi yang Ada malah menjadi manusia yang penuh Dosa . Bisa dibilang banyaknya dosaku . lebih banyak daripada jumlah penduduk sedunia . . Dan bayangkan . Semakin lama aku hidup tentu saja . bakalan makin banyak dosa yang bakal dibuat oleh "beruang" ini . Ehh iya hampir lupa . Beruang itu sebenernya bukan asal nama panggilan . Beruang ternyata arti nama dari BERNARD . WTF MENN ... Takkirain itu nama keren . eh ternyata art...